SAHABAT CICIL

Cicil adalah burung bangau kecil yang cantik dia mempunyai sahabat si manis kucing kecil dan si Rara musang kecil. Cicil sangat suka ikan dan sering menangkap ikan di pantai demikian juga dengan si Manis dan si Rara juga suka makan ikan. Rara suka menagkap ikan di rawa-rawa dekat pantai sedangkan si manis suka mencuri ikan milik nelayan di dekat pelabuhan. Cicil si bagau kecil  suka sekali memberi hadiah ikan kepada si manis dengan harapan agar si Manis tidak mencuri ikan milik nelayan lagi. Tapi si Manis sering menolak ikan pemberian Cicil karena  Cicil suka menangkap ikan yang masih kecil.

“Hai Cicil mengapa engkau selalu menangkap ikan yang kecil-kecil?, ikan yang sudah besar lebih lezat”, protes si Manis suatu hari.

“Ibuku selalu berpesan agar menangkap anak ikan , karena kalau kita menangkap ikan dewasa apa lagi induk ikan, akan menyebabkan jumlah ikan di laut akan berkurang”, jawab si Cicil.

“Ah kamu selalu begitu, ikan dewasa lebih gurih, aku tidak mau makan anak ikanmu ini”, kata Manis si kucing sambil melemparkan kembali anak ikan itu kearah Cicil.

Pada suatu pagi yang cerah Cicil, Rara dan Manis sedang bermain-main di pantai, tiba-tiba terjadi gempa yang dahsyat, ketiga sahabat itu ketakutan, Rara dan Manis saling berpelukan sedangkan Cicil terbang ke udara.

“Mengapa bumi bergocang ya?”Tanya Manis setelah kejadian

“Ini namanya gempa bumi, bumi bergoyang apabila ada gunung yang meletus, atau ada tanah longsor atau karena pergerakan lempeng bumi dan bisa juga karena sebab yang lain seperti ledakan bom dan lain-lain”, Jelas Cicil kepada kawan-kawannya yang masih ketakutan.

“Kalau terjadi gempa bumi tidak perlu panik dan takut, segeralah keluar dari ruangan menuju lapangan terbuka sehingga kita tidak tertimpa benda-benda di atas kita”, tambah Cicil.

Tak lama kemudian air laut pun surut, ketiga sahabat kegirangan melihat ikat-ikat bergeleparan di pantai, mereka menangkap ikan-ikan tersebut dan melahapnya. Namun tiba-tiba dari rimbunan hutan bakau burung-burung berterbangan manjauhi pantai, ketiga sahabat tersebut keheranan ada apakah gerangan burung-burung berterbangan menjauhi pantai. Ketegunan mereka tidak berlangsung lama, kemudian mereka kembali menangkap ikan-ikan yang bergeleparan di pantai karena air laut yang surut.

Tiba-tiba Rara si Musang teringat sesuatu, “ kawan-kawan ini bertanda buruk, apabila air laut surut tiba-tiba tanpa sebab maka akan datang gelombang yang sangat besar menerjang pantai”, jelas Rara dengan ketakutan.

“Benarkan demikian Rara?” Tanya Cicil

“Kakekku sering bercerita mengenai hal ini, dan apabila terjadi kejadian ini, saya diminta pergi menuju ke atas bukit karang di belakang hutan bakau ini”, tambah Rara

“Ah, kamu percaya saja dengan dongengannya kakek si Rara”, sambut Manis sambil terus melahap ikan-ikan didepannya.

“Kalau begitu aku mohon pamit kawan-kawan, aku harus mengikuti pesan kakekku”, pamit Rara sambil berlari meninggalkan kawan-kawannya menuju bukit karang yang terletak beberapa ratus meter di belakang hutan bakau.

“Apakah engkau tidak sebaiknya mengikuti Rara ke atas bukit karang?” Tanya Cicil kepada si Manis.

“Ah, tidak usah dipikirin si Rara, dia selalu begitu, penakut”, tanggap si Manis

Tiba-tiba dari atas langit Cicil mendengar panggilan ibunya,” Manis, aku dipanggil ibuku, aku menemui beliau dulu ya?”, kata si Cicil

“Ah dasar anak mami, ya sudah pergilah biar aku habiskan ikan-ikan yang lezat ini!”, kata si Manis

Sebelum meninggalkan si Manis, Cicil sempat mengingatkan lagi agar si manis mengikuti Rara ke atas Bukit Karang.

Beberapa saat setelah Cicil terbang mengikuti ibunya, ia menoleh ke belakang, alangkah terkejutnya ia ketika melihat ke tengah laut, gelombang raksasa yang di ceritakan Rara benar-benar terjadi. Warnanya hitam pekat seperti tembok yang sangat besar dan panjang, berjalan di tengah laut menuju ketepi pantai. Seketika Cicil teringat saahabatnya si Manis, matanya tertuju ke pantai dan melihat si manis masih disana melahab ikan-ikan. Kemudian ia melihat ke atas bukit karang dan dilihatnya sahabatnya si Rara berteriak-teriak memanggil-manggil si Manis, namun si Manis tidak mendengarkan karena terlalu jauh.

Tak lama kemudian malapetaka itupun terjadi, gelombang raksasa datang menghatam pantai dan menenggelamkan pantai serta menghancurkan hutan bakau. Air mata Cicil tidak terbendung melihat kejadian tersebut, tempat tinggal dan tempat bermain mereka hancur seketika di hempas gelombang raksasa. Setelah musibah itu usai, cicil terbang melayang-layang di sepanjang pantai dan hutan bakau untuk mencari sahabatnya si Manis, namun tidak berhasil menemukannya.

Kemudian Cicil dan ibunya pindah ikut migrasi dengan kelompok burung-burung kehutan bakau lain yang tidak terkena gelombang besar, namun sesekali dia menemui sahabatnya si Rara di bukit karang dan sesekali terbang mengintari pantai dan hutan bakau yang rusak karena gelombang besar dengan harapan bisa melihat sahabatnya si Manis.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s