ADI DAN BERANG-BERANG

Adi seorang anak yang rajin dan baik hati, dia tinggal disebuah desa kecil di kaki gunung L ouser. Sepulang sekolah Adi selalu membantu ibunya mencari ranting-ranting pohon untuk kayu bakar di hutan. Adi memiliki sahabat seekor berang-berang yang tinggal di sungai kecil di tengah hutan, Adi senang memperhatikan berang-berang saat membangun bendungan untuk sarangnya di sungai kecil tersebut. Terkadang mereka berdua berlomba-lomba menangkap ikan di sungai tersebut.

Suatu hari berang-berang bercerita kepada Adi tentang orang asing yang sering datang ke atas gunung tersebut,”Mereka membabat pohon-pohon diatas hutan, gunung disebelah sana sudah gundul, akibatnya air sungai untuk sarangku semangkin berkurang,” keluh berang-berang.

“Benar berang-berang, ibu di kampung juga mengeluh kalau musim kemarau susah sekali mencari air bersih karena sungai jadi kering, kalaupun ada airnya keruh sekali,”imbuh si Adi

“Kalau musim penghujan datang sedangkan hutan diatas gundul serta log kayu yang besar-besar berserakan di atas sana akan sangat berbahaya,” kata berang-berang dengan nada ketakutan

“Mengapa berbahaya?”, Tanya Adi keheranan

“Kalau turun hujan maka air hujan akan terhambat oleh log kayu yang besar-besar itu, maka terjadilah genangan seperti bendungan, nah apabila hujannya semakin deras dan lama maka log-log kayu itu tidak mampu menahan jumlah air yang besar, maka log kayu akan pecah dan terjadilah banjir bandang yang akan menghantam desa-desa disepanjang aliran sungai ini”, jelas berang-berang

Lalu berang-berang menuju ke tempat bendungan kecil yang dia buat di sungai kecil itu, lalu ranting-ranting pohon yang dijadikan bendungan di rusaknya sehingga air yang terbendung tumpah ke aliran sungai dengan jumlah yang besar dan menyeret berang-berang beberapa meter ke bawah.

“Sudah kamu lihat akibatnya bukan? Kalau air yang terbendung terlepas?”, Tanya berang-berang sambil kembali ke atas dan memperbaiki kembali sarangnya yang rusak tersebut

“Kampung kami terletak di pinggir sungai itu, kalau hal seperti ini terjadi akan banyak korban yang jatuh”, kata Adi mulai mengerti maksud berang-berang

“Lalu bagaimana agar kami terhindar dari musibah ini?”, tanya Adi

“Aku akan membantu kamu menelusuri aliran air yang akan menjadi tempat tumpahan banjir bandang, lalu kita cari tempat yang aman untuk mengungsi”, tawar berang-berang

 

Maka setelah memperbaiki sarang berang-berang yang rusak mereka berdua menelusuri anak-anak sungai yang akan dilalui banjir bandang apabila kelak terjadi, mereka mendapatkan sebuah bukit di kaki gunung yang aman untuk mengungsikan penduduk desa.

Maka menjelang sore kembalilah Adi ke desanya, lalu dia menemui pak Geucik (kepala desa) dan menceritakan bahaya banjir bandang apabila musim penghunjan datang.

“Benar Adi, tidak sampai sebulan lagi akan masuk musim penghujan, kalau melihat hutan kita yang gundul di atas sana, bisa saja terjadi banjir bandang,” kata pak Geucik dengan suara bergetar.

“Saya sudah menelusuri anak-anak sungai di hutan, saya menemukan sebuah bukit yang aman untuk mengungsikan warga”, terang Adi sambil menunjukan sebuah bukit yang tidak terlalu jauh dari desa mereka.

Lalu pak Geucik dan Adi pergi memeriksa bukit tersebut,”Iya kamu anak yang pintar Adi, tempat ini sepertinya aman apabila terjadi banjir bandang”, puji pak Geucik sambil menepuk-nepuk punda Adi.

Keesokan harinya pak Geucik mengumpulkan semua warga dan menceritakan tentang bahaya banjir bandang dan meminta warga menyiapkan tempat pengungsian. Kemudian warga bergotongroyong menyiapkan bukit tersebut menjadi tempat pengungsian.

Dua minggu kemudian masuklah musim penghujan, beberapa warga sudah ada yang mengungsi ke bukit, terutama anak-anak, wanita dan orang-rang yang sudah tua renta, sedangkan sebagian laki-laki masih berladang dan menjaga rumah-rumah mereka. Setelah seminggu hujan turun semakin deras, warga semakin khawatir karena permukaan air sungai juga sudah meninggi dan arusnya deras, lalu pak geucik memerintahkan semua warga pindah ke bukit. Pada tengah malam hujan tuun dengan derasnya tiba-tiba dari atas gunung terdengar suara seperti letusan yang keras, hanya dalam hitungan menit terdengarlah gemuruh dari atas gunung, warga ketakutan mereka saling berpelukan dan sebagian anak-anak dan wanita menangis, sedangkan beberapa orang berjaga-jaga dari atas bukit. Tak lama kemusdian banjir bandang pun datang dan menerjang kampung mereka, sebagian rumah penduduk hancur terbawa banjir bandang. Namun Alhamdulillah semua penduduk desa selamat karena mengungsi ke atas bukit.

Keesokan harinya beberapa warga turun ke desa mereka untuk melihat-lihat kerusakan akibat banjir bandang, disana-sini berserakan kayu-kayu besar hasil pembalakan liar. Pak geucik dan warga sedih melihat desa mereka hancur berantakan di hantam banjir bandang. Tak lama kemudian datang pak camat, pak polisi dan bapak tentara mereka berbicara serius dengan pak Geucik, lalu pak geucik memanggil Adi untuk mendekat.

“Ini namanya Adi, dia anak yatim, ayahnya dahulu seorang pang Uteun (penjanga Hutan), sejak ayahnya meninggal tidak ada lagi yang menjaga hutan sehingga pembalak liar bebas membabat hutan kami”, terang pak geucik

Lalu pak camat menepuk-nepuk pundak Adi,”kamu anak yang hebat Adi, kamu sudah menyelamatkan warga desa ini”, puji pak Camat.

Pak polisi dan pak tentara juga menyalami Adi dan mengucapkan terimaksih kepada Adi yang sudah peduli kepada keselamatan warga desa.

Keesokan harinya banyak bapak polisi dan bapak tentara yang naik ke atas gunung yang gundul tersebut, mereka menangkap beberapa orang serta meyita peralatan para pembalak liar.

Sejak kejadian itu warga desa kembali menanami hutan yang gundul dan menjaganya dari para pembalak liar. Dan Adi kembali bisa bermain dengan berang-berang sahabatnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s