RELEVANSI KONSEP OODA DALAM KEBENCANAAN

Konsep OODA yang awalnya merupakan sebuah strategi perang atau seni berperang sama seperti Sun Tzu dengan “Art of War”nya, OODA ini juga ternyata banyak di adaptasi ke dalam bidang-bidang lain karena dianggap relevan dengan kenyataan yang terjadi bidang-bidang tersebut.

O-O-D-A ini digambarkan oleh John Boyd dalam resep empat langkah untuk mencapai kemenangan. Langkah-langkah ini disebut dengan OODA loop. Loop ini adalah siklus keputusan yang berputar secara konstan yang menggambarkan alur pikiran setiap saat ketika menghadapai permasalahan dari hal sederhana sampai yang kompleks. Siklus dari loop ini di gambarkan sebagai berikut:

 

 Gambar 1. Siklus Boyd Terperinci

 Gambar di atas menunjukkan lingkaran dari OODA Loop yang merupakan serangkaian langkah-langkah sekuensial dari tahap Observe, Orient, Decice dan Act.

Dalam Organisasi Kebencanaan penerpan OODA sangat relevan di terapkan terutama pada saat terjadi bencana, yaitu pada kondisi tanggap darurat, pada saat normal konsep ini bisa diterapkan dalam upaya kesiap-siagaan.

Penjelasan detail setiap langkah OODA Loop sebagai berikut:

1. Observe (Mengumpulkan dan membedah semua informasi internal dan eksternal)

Observasi, merupakan langkah pertama dalam OODA Loop merupakan langkah mencari dan mengumpulkan semua informasi.

Dalam Organisasi kebencanaan Informasi yang pertama kali harus dicari adalah situasi taktis keadaan nature saat ini. Informasi tentang potensi bencana yang terjadi diwilayah tersebut, tanda-tanda awal suatu bencana, kesiapan masyarakat menghadapi bencana, fasilitas pendukung keselamatan pada saat terjadi bencana seperti peta bencana, sirine, jalur evakuasi, tempat evakusai (titik kumpul), tempat pengungsian, tenda, perahu karet (untuk evakuasi bencana banjir), ketersediaan logistic dan obat-obatan  dan lain-lain.

Berikutnya menurut Boyd adalah outside information. Termasuk bagian ini adalah environment, yaitu perilaku dan kecenderungan masyarakat yang meliputi kondisi fisik, mental dan situasi moral.

Pencarian informasi ini harus dilakukan secara aktif apa saja kemungkinan informasi yang bisa diperoleh. Bukan langkah pasif yang hanya menghasilkan informasi yang terbatas.

 2. Orient (Menganalisis dan mensintesa : budaya, tradisi, warisan/pusaka genetik, pengalaman sebelumnya, dan informasi baru)

Orientasi adalah ’O’ besar dalam OODA Loop. Pada ilustrasi gambar di atas, orientasi memiliki ilustrasi yang lebih komplek.

Pada tahap orientasi ini harus menghasilkan orientasi yang bertenaga agar mampu mendukung secara positip keputusan apa yang akan dibuat, tindakan apa yang akan diambil, dan apa yang akan kita pilih dari tahap observasi sebelumnya.

Tahap observasi ini merupakan langkah mensintasa beberapa komponen yang ada, termasuk tradisi, budaya, pengalaman sebelumnya, warisan/pusaka genetik, dan informasi baru dari keadaan yang terjadi. Semua komponen tersebut dianalisis dan disintesa untuk menghasilkan sesuatu yang baru yang memiliki nilai taktis dan strategis dengan akurasi, kualitas, efektifitas lebih baik dari kondisi saat ini, lebih meningkat bahkan terkadang memiliki peningkatan yang dramatis yang merupakan cara baru atau alat baru yang lebih efektif dan berguna dalam mengatasi kondisi-kondisi kebencanaan yang sedang/akan dihadapi.

3. Decide (Menentukan hipothesis dari langkah sebelumnya (Orient))

Pada tahap ini adalah tahap mengambil keputusan dan merupakan langkah eksplisit, sebagai langkah sadar kelanjutan dari hasil orientasi.

Boyd juga menyadari bahwa intuisi atas pemahaman situasi yang ada dan kemampuan pribadi seseorang atau organisasi juga bisa membuat langkah keputusan ini dilakukan secara implisit. Ini menjadi situasi yang dipilih karena dapat mempercepat proses OODA Loop.

4. Act (Melakukan tindakan (Pengetesan Keputusan))

Tahap Act ini merupakan langkah nyata yang paling besar pengaruhnya. Karena keputusan yang diambil akan berdampak pada situasi baru yang akan muncul.

Pada Organisasi Kebencanaan tahap Act ini akan menentukan seberapa besar kemampuan kita menekan jumlah korban jiwa (meninggal dan luka-luka),  seberapa besar kerugian materil yang dapat di tekan dan seberapa besar kita mampu mengurangi penderitaan yang dialami  korban bencana.

Pada tahap ini sering situasi akan mengalami perubahan dengan kenyataan dan fakta-fakta baru. Maka kita dapat segera melakukan langkah orientasi ulang atas situasi dan fakta baru tersebut untuk segera melakukan langkah decide ulang dan act secara berulang. Dan ini merupakan siklus alami dari metode OODA ini.

4. Speed (Kecepatan)

Ini adalah kata terakhir yang penting. Karena kecepatan adalah faktor penting yang sangat mendukung pencapaian tujuan untuk menekan jumlah korban jiwa dan materil serta menetukan seberapa cepat korban dapat ditangani sehingga penderitaan korban dapat dikurangi seminimal mungkin. Kecepatan ini sering terjadi pada keputusan implisit daripada keputusan eksplisit. Dengan pengalaman dan kemampuan seseorang atau organisasi bisa melakukan pengambilan keputusan secara implisit dengan dapat mem-bypass suatu keputusan dan ini bisa memberikan dampak kepada keberhasilan dalam menangani bencana yang sedang/akan terjadi.

 Gambar 2. Siklus Boyd Terperinci

Dari Gambar 2 di atas dapat diketahui bahwa keempat langkah OODA masing-masing mempunyai komponen yang terperinci. Yang pada intinya bertujuan agar penyusunan strategi Organisasi Kebencanaan dapat mengikuti pola yang baku dan terukur. Keempat langkah tersebut harus dilaksanakan secara berurutan. Karena berupa siklus, langkah act (bertindak) bukan merupakan langkah terakhir. Bisa saja terjadi kesalahan sehingga perlu dilakukan langkah observe (mengamati) kembali. Demikian seterusnya hingga diperoleh keputusan strategi yang benar-benar tepat dan sesuai dengan tujuan organisasi. Dalam melakukan pengulangan siklus, harus memperhatikan faktor waktu karena setiap keputusan akan berdampak terhadap sistem lain yang terkait. Tidak boleh terlambat dan berlama-lama dalam mengambil keputusan yang tepat.

 Penutup

Konsep strategi OODA sebagai acuan penyusunan strategi organisasi telah banyak diterapkan dalam konteks individu dan organisasi. Hal ini membuktikan bahwa konsep ini relevan dan layak untuk diterapkan juga di Organisasi Kebencanaan. Kedepannya diharapkan setiap kebijakan dan strategi yang disusun untuk melaksanakan tugas pokok dan fungsinya dengan baik, Organisasi Kebencanaan perlu mengadopsi konsep-konsep strategi yang telah ada.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s