TSUNAMI

Tsunami (bahasa Jepang: 津波; secara harfiah berarti “ombak besar di pelabuhan”) adalah sebuah ombak yang terjadi setelah sebuah gempa bumi, gempa dilaut, gunung berapi meletus, atau hantaman meteor di laut. Tenaga setiap tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Dengan demikian, apabila gelombang menghampiri pantai, ketinggiannya meningkat sementara kelajuannya menurun. Gelombang tersebut bergerak pada kecepatan tinggi, hampir tidak dapat dirasakan efeknya oleh kapal laut (misalnya) saat melintasi di laut dalam, tetapi meningkat ketingggian hingga mencapai 30 meter atau lebih di daerah pantai. Tsunami bias menyebabkan kerusakan erosi dan korban jiwa pada kawasan pesisir pantai dan kepulauan.
Dampak negative yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin pada lahan pertanian, tanah, dan air bersih.Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibabkan oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau, tahun 1883.
Gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami. Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya beberapa centimeter hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer.
Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi (tubrukan lempeng tektonik), dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua.
Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi mega-tsunami yang tingginya mencapai ratusan meter (Sumber: Maulana, http//:maul4n4.multiply.com/journal/item) Diakses 14 Oktober 2009 jam 09.00.
Tsunami mempunyai kecepatan yang berbanding lurus dengan kedalaman laut semakin besar kedalam laut maka kecepatan tsunami semakin besar. Selama penjalaran dari tengah laut (pusat terbentuknya Tsunami) menuju pantai, kecepatan semakin berkurang karena gesekan dengan dasar laut yang semakin dangkal. Akibatnya tinggi gelombang dipantai menjadi semakin besar karena adanya penumpukan masa air akibat dari penurunan kecepatan. Ketika mencapai pantai, kecepatan Tsunami yang naik ke daratan (run‐up) berkurang menjadi sekitar 25 – 100 Km/jam. Gelombang yang berkecapatan tinggi ini bisa menghancurkan kehidupan di daerah pantai dan kembalinya air ke laut setelah mencapai puncak gelombang (run‐down) bisa menyeret segala sesuatu kelaut. Dataran rendahpun dapat menjadi tergenang membentuk lautan baru. Tsunami dapat merobohkan bangunanbangunan, jembatan, merusak jalan raya, memutuskan jaringan listrik, jaringan telepon dan infrastruktur lainnya. Sarana air bersih, lahan pertanian dan kesuburan tanah pun terganggu karena terkontaminasi air laut.

Kejadian‐kejadian tsunami di masa lalu (paleo‐tsunami) perlu didata dan dijadikan data base untuk mengetahui karakteristik kejadian bencana tsunami di suatu tempat. Perulangan kejadian bencana ini sangat dimungkinkan pada suatu periode waktu yang bervariasi. Akan tetapi untuk Tsunami yang tergolong besar, periode perulangannya dapat mencapai ratusan bahkan mungkin ribuan tahun. Identifikasi sistem tektonik , struktur geologi dan morfologi daerah dasar laut khususnya disekitar zona tumbukan (subduction zone). Pemetaan daerah risiko bencana Tsunami dapat dibuat berdasarkan sejarah kejadian tsunami serta pemodelan secara komputer pada daerah dataran pantai.

Tanda-tanda akan terjadinya tsunami:
• Gelombang air laut datang secara mendadak dan berulang dengan energi yang sangat kuat
• Kejadian mendadak dan pada umumnya di Indonesia didahului dengan gempabumi besar dan susut laut.
• Terdapat selang waktu antara waktu terjadinya gempa bumi sebagai sumber Tsunami dan waktu tiba Tsunami di pantai mengingat kecepatan gelombang gempa jauh lebih besar dibandingkan kecepatanTsunami.
• Metode untuk pendugaan secara cepat dan akurat memerlukan teknologi tinggi.
• Di Indonesia pada umumnya Tsunami terjadi dalam waktu kurang dari 40 menit setelah terjadinya gempabumi besar di bawah laut.
Pada tanggal 26 Desember 2004, terjadi gempa bumi dahsyat di Samudra Hindia, lepas pantai barat Aceh. dan disusul dengan Tsunami yang menyerang pesisir barat pulau Sumatera. Provinsi Nangroe Aceh Darusallam dan Kepulauan Nias, Sumatera Utara adalah wilayah terparah yang diporak poranda diterjang air bah. Kerugian material yang diakibatkan bencana ini ditaksir hampir ratusan trilyun rupiah. Banyak sarana-sarana transportasi, komunikasi, dan infrastruktur lainnya hancur ditelan gelombang air pasang ini. Kota yang dulunya dipadati oleh rumah-rumah penduduk dan bangunan batu, kini hampir rata dengan tanah. Ratusan ribu nyawa melayang. Dalam waktu sekejap mayat-mayat bergelimpangan disepanjang jalan dan dibiarkan membusuk tanpa ada yang merawatnya. Bencana ini kini tidak saja dirasakan oleh mereka yang terkena langsung, tetapi dirasakan oleh segenap masyarakat dunia.
Tsunami di Aceh itu terjadi karena gempa bumi pada jam 7:58:53 WIB. Pusat gempa terletak pada lintang 3.316° N dan bujur 95.854° E , kurang lebih 160 km sebelah barat Aceh sedalam 10kilometer.(sumber:http//:id.wikipedia.org/wiki/Gempa_bumi_Samudra_Hindia_2004), diakses 14 Oktober 2009 jam 11.00.
Gempa di lepas panati Aceh itu berkekuatan 9,3 menurut skala Richter dan dengan merupakan gempa bumi terdahsyat dalam kurun waktu 40 tahun terakhir ini yang menghantam Aceh, Sumatera Utara, Pantai Barat Semenanjung Malaysia, Thailand, Pantai Timur India, Srilangka, bahkan sampai Pantai Timur Afrika. Gempa yang mengakibatkan tsunami itu menyebabkan sekitar 230.000 orang tewas di 8 negara. Ombak tsunami setinggi 30 meter. Bencana ini merupakan kematian terbesar sepanjang sejarah. Indonesia, Sri Langka, Inda, dan Thailand merupakan negara dengan jumlah kematian terbesar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s