PENTINGNYA PENGETAHUAN KEBENCANAAN TERHADAP PENGURANGAN RESIKO BENCANA

Tsunami Aceh 26 Desember 2004 mengejutkan seluruh elemen bangsa. Tak pernah terbayangkan potensi bencana bisa berwujud nyata dalam bentuk mahabencana yang sedemikian besar. Gempa bumi tektonik dengan berkekuatan 9,3 Skala Richter yang berpusat di Samudra India, tepatnya 3,3 Lintang Utara dan 95,9 Bujur Timur di kedalaman 10 km dan berjarak sekitar 160 km selatan kota Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam ternyata berdampak sedemikian dahsyat menyebabkan 230.000 orang tewas di 8 negara.
Bencana yang terjadi beruntun setelah tsunami Aceh juga semakin menguak kesadaran akan perlunya penanganan serius dan fokus dalam mengantisipasi bencana yang akan terjadi dimasa yang akan datang.
Fakta menunjukkan, setelah terjadi gempa dengan 9,3 Skala Richter, penduduk kota Banda Aceh yang sedang berada di pinggir pantai malah gembira melihat air laut yang tiba-tiba menyusut drastis, sebagian dari mereka sibuk memungut ikan-ikan yang sedang menggelepar di pantai tanpa menyadari bahaya besar yang mengancamnya. Kalau saja masyarakat tersebut memiliki pengetahuan tentang tsunami dan andai saja masyarakat sudah memiliki ‘safety rules’ tentu saja korban jiwa yang jatuh tidak sebesar itu. Lain halnya dengan masyarakat di pulau Simeulu, mereka segera lari menuju kedataran yang lebih tinggi, ke bukit-bukit di sekitar tempat tinggal mereka, sehingga hampir tidak ada korban jiwa disana pada saat tsunami terjadi pada 26 Desember 2004.

Masyarakat di pulau Simeulu memiliki pengetahuan yang sangat baik mengenai tsunami, pengetahuan tersebut sudah menjadi bagian dari budaya masyarakat Simeulu dan telah diturunkan dari generasi ke genarasi baik itu melalui cerita, syair, lagu dan lain-lain. Hal ini juga tidak lepas dari kondisi pulau Simeulu yang sering di landa gempa dan tsunami baik dalam skala kecil maupun besar. Sayang pengetahuan seperti ini sepertinya tidak di miliki oleh masyarakat Mentawai, sehingga pada saat terjadi tsunami beberapa waktu lalu banyak memakan korban jiwa.

Pengetahuan tentang tsunami mungkin saja dimiliki oleh masyarakat Mentawai, namun pengetahuan yang salah bisa menjadi bumerang bagi masyarakat, setelah beberapa kali gempa besar terjadi dan ternyata tidak menimbulkan tsunami, membuat tingkat kewaspadaan masyarakat Mentawai menurun dan pada saat terjadi gempa dengan skala dibawah gempa-gempa terdahulu masyarakat tidak mengira akan disusul dengan tsunami. Gempa dengan skala 7,2 SR terjadi pada tanggal 25 Oktober 2010 di dekat pulau Mentawai di susul tsunami memakan korban tewas lebih kurang 500 orang dan yang hilang lebih kurang 100 orang.

Pengetahuan dan informasi yang salah dapat meningkatkan kerentanan masyarakat dalam menghadapai bencana, seperti keyakinan yang beredar di masyarakat Indonesia pasca Tsunami Aceh 2004 bahwa apabila terjadi bencana berlindunglah di masjid atau rumah ibadah lainnya. Sehingga pada saat terjadi bencana seperti tsunami pangandaran, gempa bantul dan bencana ditempat lainnya banyak masyarakat yang memilih berlindung di masjid atau gereja. Hal ini dikarenakan cerita-cerita yang beredar di masyarakat mengenai orang-orang yang selamat karena berlindung di masjid pada saat tsunami di Aceh, ekspose media mengenai cerita-cerita ini banyak yang tidak utuh, media hanya memuat cerita mereka yang selamat saat berlindung di mesjid padahal banyak juga yang meninggal walaupun sudah berlindung di mesjid. Hal seperti ini ikut membangun presepsi dan pengetahuan yang salah mengenai “safety rules” di masyarakat.

Tidak hanya masyarakat didaerah saja yang belum memiliki pengetahuan yang cukup mengenai bencana, masyarakat ibu kota Jakarta tidak sepenuhnya memiliki pengetahuan mengenai bencana. Bencana utama yang mereka ketahui adalah banjir yang setiap tahun terjadi sedangkan bahaya lebih besar yang mungkin mengancam mereka yaitu gunung Anak Krakatau di selat sunda hampir tidak mereka sadari. Umumnya mereka tahu bahwa gunung Krakatau pernah meletus, sebagian malah tahu letusan tersebut terjadi pada tahun 1883, namun sebagian besar masyarakat tidak tahu bahaya dari meletusnya gunung Krakatau.

Masyarakat Banten sudah lebih baik dalam hal kesiapan menghadapi acaman bencana tsunami, mereka telah melakukan tsunami drill pada tanggal 26 Desember 2007 untuk mengantisipasi terjadinya tsunami dari dampak meletusnya gunung Anak Krakatau atau pergeseran lempeng di laut India. Namun bahaya utama lain yang tidak kalah dasyat yaitu awan panas yang akan terjadi apabila gunung meletus, ternyata belum banyak diketahui oleh masyarakat. Padahal pada saat terjadi letusan gunung Krakatau pada 27 Agustus 1883 bencana awan panas ini banyak memakan korban jiwa.

Pengetahuan akan kebencanaan sangat dibutuhkan oleh masyarakat, berbagai informasi mengenai jenis bencana yang mungkin mengancam mereka, perkiraan daerah jangkauan bencana, gejala-gejala bencana, prosedur menyelamatkan diri, tempat-tempat yang di anjurkan mengungsi, dan informasi lain akan sangat membantu masyarakat dalam menghadapi bencana yang datang serta dapat mengurangi korban yang terjadi. Peran serta pemerintah, LSM, pers, dan elemen-elemen masyarakat lainnya diharapkan mampu mensosialisasikan informasi mengenai kebencanaan sehingga pengetahuan masyarakat mengenai bencana akan meningkat. Penyampaian informasi yang benar serta pelurusan pengetahuan dan persepsi masyarakat yang keliru mengenai bencana akan mengurangi kerentanan masyarakat terhadap bencana.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s