PEMAHAMAN WISDOM TERKAIT PENGURANGAN RESIKO BENCANA

“Penggalian kembali kearifan lokal sangat penting dalam upaya penyelamatan terhadap banyak masyarakat dari hantaman gelombang tsunami. Kebijaksanaan lokal yang dipahami dan diterapkan sejumlah daerah sudah terbukti dalam mengurangi korban jiwa,” kata Syamsul Maarif, Kepala BNPB pada lokakarya di Padang, tanggal 23 Juni 2011.
Melihat dari pengalaman di Kabupaten Simeulue, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang memahami dan mempunyai kearifan lokal (Smong), hanya dengan satu kata itu saja masyarakatnya sudah berlarikan menuju daerah aman. Jadi, sekitar 400 ribu penduduk di kepulauan itu hanya sedikit yang meninggal akibat bencana gelombang tsunami yang terjadi pada 2004 lalu.
Selain itu, kearifan lokal ini dipahami dan diterapkan juga masyarakat Gorontalo, Smolati sama juga. Demikian juga, di Jawa Tengan punya kearifan lokalnya dengan satu kata (Wangon, red). Jadi, ketika masyarakatnya sudah mendengarkan kata Wangon (warga yang daerahnya berada kawasan pantai sudah berlari keperkampungan Wangon, red).
Setiap daerah jelas punya kearifan lokal masing-masing, tentu lebih mengatahui masyarakat di daerahnya mana yang tepat satu kata untuk dijadikan peringatan dini dalam penyelamatan warga dari gelombang tsunami atau ancaman bencana lainnya.
Perlu diingatkan kepada daerah-daerah rawan ancaman bencana untuk menggalinya kembali dan bagi yang belum ada bisa saja dibuat. Namun, yang terpenting apapun satu kata yang ditetapkan bukan persoalan, asalkan mudah dipahami masyarakat, artinya satu kata tetapi semua masyarakat bisapaham bahwa adalah peringatan untuk menyelamatkan diri.
Ada baiknya agar dalam menginformasikan tentang bencana alam kepada masyarakat di kampung-kampung harus punya seni. Tujuannya, agar penjelasan yang diberikan pada masyarakat bisa dipahami dan jangan pula berbicara tentang hitungan-hitungan kegempaan yang tak bisa dipahami masyarakat.
Bencana akan timbul apabila lemah dalam menghadapinya, sebenarnya bisa dilakukan antisipasi, setidaknya memperkecil jatuhnya korban jiwa. Makanya, semua pihak dan pemangku kepentingan di daerah harus bersama-sama untuk membangun kesadaran bersama akan ancaman bencana alam.
Kearifan dimasyarakat adalah pengalaman dan pengetahuan di miliki masyarakat di dalam kehidupan sehari-hari yang telah menjadi budaya di masyarakat tersebut. Kearifan ini tumbuh karena tuntutan atau tantangan yang dihadapi masyarakat tersebut dilakukan berulang-ulang dan sudah teruji dalam menghadapi tantangan tersebut. Seperti masyarakat Simeulu yang sering mengalami gempa dan tsunami, baik dalam skala kecil maupun skala besar, membuat mereka memiliki pengetahuan yang baik mengenai tsunami, pengetahuan mereka mengenai tsunami ini sudah mendarah daging karena diturunkan dari generasi ke generasi. Dengan demikian pemahaman masyarakat Simeulu mengenai tsunami sangat efetktif dalam pengurangan resiko bencana.
Tidak semua pengetahuan yang telah menjadi kebiasaan dimasyarakat dalam menghadapi bencana bisa dilestarikan, harus di teliti terlebih dahulu apakah kebiasaan tersebut mampu menyelamatkan masyarakat pada saat bencana atau malah menjebak. Kebiasaan masyarakat yang tidak sesuai dengan ‘safety rules’ dapat di luruskan melalui penyuluhan. Seperti kejadian saat gunung merapi meletus di Jogya, dimana sulit sekali meminta masyarakat pindah dari lereng dan kaki gunung merapi karena mereka lebih percaya kepada hal-hal mistisnya dari pada bahaya yang akan terjadi terhadapa diri mereka sendiri. Bahkan masyarakat lebih percaya kepada juru kunci gunung dari pada kepada Sultan untuk urusan gunung merapi. Akibatnya lebih kurang 300 orang meninggal dunia yang umumnya karena luka bakar, sebenarnya korban masih bisa diselamatkan asalkan mereka mau mengungsi untuk sementara karena waktu dari awal gejala batuk-batuk gunung merapi sampai waktu meletus sangat panjang.
Untuk merubah pemahaman dan pengetahuan masyarakat perlu waktu yang panjang dalam upaya menyakinkan sebuah masyarakat bahwa ‘kearifan lokal’ mereka itu ada kelemahannya dan memberi pandangan baru yang lebih baik untuk pengurangan resiko bencana.
Melihat dari dua kejadian tsunami tahun 2004 di Simeulu dan meletusnya gunung merapi 2010 di Jogya dapat menjadi pelajaran bagi kita bagaimana kearifan lokal di masing-masing tempat sangat berperan dalam pengurangan resiko bencana atau malah meningkatkan kerentanan terhadapa bencana. Tsunami yang menyisakan sedikit waktu untuk menyelamatkan diri ternyata hanya memakan segelintir korban jiwa di Simeulu sedangkan letuskan gunung merapi di Jogya yang waktu evakuasinya relative lebih panjang ternyata memakan korban jiwa jauh lebih banyak.
Pemahaman kearifan lokal sangat penting dalam rangka pengurangan resiko bencana, kearifan lokal meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapai bencana sehingga dapat menekan jumlah korban jiwa dan kerugian lainnya .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s