KEARIFAN LOKAL DALAM MITIGASI BENCANA (WANGON VS SMONG)

“Penggalian kembali kearifan lokal sangat penting dalam upaya penyelamatan terhadap banyak masyarakat dari hantaman gelombang tsunami. Kebijaksanaan lokal yang dipahami dan diterapkan sejumlah daerah sudah terbukti dalam mengurangi korban jiwa,” Kata Syamsul Maarif, kepala BNPB pada lokakarya di Padang, tanggal 23 Juni 2011.

Melihat dari pengalaman di Kabupaten Simeulu, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) yang memahami dan mempunyai kearifan lokal (Smong), hanya dengan satu kata itu saja masyarakatnya sudah berlarian menuju daerah aman. Jadi, sekitar 400 ribu penduduk di kepulauan itu hanya sedikit yang meninggal akibat bencana gelombang tsunami yang terjadi pada 2004 lalu.

Demikian juga, di Jawa Tengah punya kearifan lokal yang mirip dengan Smong di Simeulu yaitu dengan kata Wangon. Saat tanggal 17 Juli 2006 terjadi tsunami di sisi selatan pulau Jawa tepatnya disekitar pantai Cilacap, masyarakat yang mendengar kata Wangon, mereka berlarian kearah perkampungan Wangon.

Wangon adalah sebuah daerah perlintasan kendarana antar propinsi di daerah Jawa Tengah tepatnya di daerah Banyumas, sejak dahulu kala sudah dijadikan tempat tujuan pelarian atau pengungsian apabila terjadi tsunami di pesisir pantai laut selatan. Maysarakat setempat sudah paham apabila ada teriakan wangon maka mereka serta merta akan berlarian ke arah perkampungan wangon.

Namun apabila kita ingin membandingkan dengan smong maka ada beberpa perbedaan:
1. Smong : merupakan “kode” atau peringatan dini bagi masyarakat untuk mengungsi ke tempat lebih tinggi yang terdekat
2. Wangon: merupakan “kode” atau peringatan dini bagi masyarakat untuk mengungsi ke perkampungan Wangon
3. Pada Smong masyarakat di minta menyelamatkan diri ketempat yang lebih tinggi seperti perbukitan, sedangkan Wangon masyarakat sudah diarahkan kesebuah perkampungan yang bernama Wangon
4. Kelebihan Smong adalah bahwa masyarakat akan lebih cepat sampai ketempat aman karena mereka akan meyelamatkan diri ke perbukitan terdekat (segera menjauih pantai), namun paska tsunami akan terjadi permasalahan untuk koordinasi dan informasi bagi yang mencari anggotas keluarganya. Sedangkan Wangon otomatis masyarakat akan berusaha menuju ke satu tempat yaitu perkampungan Wangon, sehingga mudah dikoordinasi. Namun untuk masyarakat awam akan menjadi masalah apabila dalam usaha menuju kampung Wangon mereka tidak menjauhi pantai.
5. Pengalaman di tsunami 2011 di Jepang, salah satu tempat yang di siapkan sebagai tempat tujuan pelarian dan pengungsian ternyata menjadi perangkap maut bagi pengungsi karena ternyata tempat tersebut ikut di hantam tsunami.

Untuk itu ada beberapa saran untuk melengkapi Smong dan Wangon:
1. Smong: dibuat beberapa posko menjadi tempat berkumpul kembali setelah menyelamatkan diri sehingga masyarakat tidak panik mencari anggota keluarganya
2. Wangon: harus disosialisasikan sebagai “kode” menjauh dari pantai baru kemudian berkumpul di desa Wangon
3. Pastikan perkampungan Wangon cukup aman dari hantaman tsunami yang besar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s