PENGENDALIAN BANJIR (KOTA JAKARTA)

Selalu menarik memperhatikan bagaimana Jakarta mengatasi masalah banjir, hampir semua gubernur Jakarta mempunyai gagasan bagaimana mengatasi banjir kota Jakarta. Bahkan beberapa calon gubernur menjadikan banjir sebagai jualan kampanyenya. Misal gubernur terpilih periode terakhir yang menjadikan banjir sebagai bahan kampanye sehingga popular dengan ungkapan “Serahkan ke Ahlinya!”.

Ketika Jan Pieterszoon Coen pada 1619 mengambil alih Jayakarta, istana Pangeran Jayakarta dan mesjidnya dirubuhkan lalu dibangun Batavia.
Desainnya dibuat oleh Simon Stevin, perncang kota-kota dan kanal Belanda. Kini banyak yang tertimbun, tersisa Kanal Ancol, Kalibesar, Mukervaart, Kali Item, Sentiong dan Krukut yang dibangun pada 1647.
Dulu Batavia dan kanalnya dipuji-puji di Eropa dengan berbagai julukan: Kota Surga Abadi; Kota Paling Nikmat di Hindia; Sang Ratu Timur.
Banjir besar tercatat pada tahun-tahun 1671, 1699, 1711, 1714, dan 1854. 1728-1778 dibangun system drainase dengan pintu air (kini sudah hilang) dan bendungan (Katulampa dan Empang) untuk mengendalikan air ke Batavia melalui kanal Kali Baru Timur dan Barat.
Namun ketika populasi meningkat, kanal menjadi sumber polusi dan malaria, Batavia pun mulai tak nyaman, dan mendapat julukan baru: Kuburan Belanda. Daendels merintis exodus ke Weltevreden (Departemen Keungan, Lapangan Banteng) pada 1809. Kastil Batavia dan tembok kota dihancurkan untuk bahan bangunan istana baru. Daerah kota pun bebas di huni Indo, Cina, dan Mardijkers (budak-budak merdeka).
1845 dibangun kanal di Grogol, Kali Karang, Ciliwung dan Gunung Sahari. Beberapa area persawahan diubah menjadi situ, seperti Situ Gintung dai Ciputat.
Untuk penggelontoran air di musim kemarau, dibangun Banjir Kanal Barat dan Pintu Air Manggarai pada 1918-1922.

Diera kemerdekaan, dibentuk lembaga Kopro Banjir pada 1965 yang pada 1966 membangun Waduk Pluit serta rehabilitasi sungai di sekitarnya untuk mengendalikan luapan kali Cideng Bawah, Krukut Bawah, an Duri.
Saluran pengendali di Grogol dibangun pada 1968 dengan membuat kali grogol.
Pada 1969 di bangun Waduk Setia Budi yang menampung luapan kali Cidenga; Waduk Melati yang mengamankan Jalan Thamrin dan sekitarnya; serta Waduk Tomang untuk menerima luapan kali Sekretaris. Bayangkan dalam tiga tahun empat waduk.

1972, Kopro Banjir diubah menjadi Proyek Pengendalian Banjir Jakarta Raya. Lalu diperluas menjadi Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Kini ditangani oleh Satuan Koordinasi Pelaksana Pengendali Banjir.
Prinsip dasar pengendalian banjir yang dilakukan adalah dengan mengalirkan air sungai yang masuk ke Jakarta, ditampung dan dikendalikan debit serta arahnya agar tidak memasuki wilayah tengah kota. Air di tengah dialirkan melalui banjir Kanal Barat, di barat melalui Cengkareng Drain dan di timur melalui Cakung Drain.

Di daerah tinggi dibuat drainase yang menyalur air secara gravitasi, dengan sendirinya. Di daerah rendah, menggunakan system polder: ditampung kemudian di pompa ke saluran pengendali.

About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s